JOKOWI: 448 JUTA VAKSIN COVID-19 SUDAH DISUNTIKAN
JOKOWI: 448 JUTA VAKSIN COVID-19 SUDAH
DISUNTIKAN
Sudah 448
juta vaksin COVID-19 disuntikkan ke masyarakat Indonesia. Angka tersebut
merupakan upaya dari banyak pihak demi meningkatkan kekebalan terhadap infeksi
virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.
"Bapak
ibu bisa membayangkan, bagaimana satu per satu 448 juta vaksin itu kita
suntikkan. Bukan persoalan yang gampang," kata Presiden Joko Widodo
(Jokowi).
Selain mesti
mengedukasi masyarakat mengenai manfaat vaksin COVID-19, aspek geografis
Indonesia juga tidak semua mudah diakses.
"Geografi
kita juga tidak mudah, ada laut, ada gunung, ada sungai semuanya dilalui untuk
mencapai rakyat bisa disuntik dan rakyat mau disuntik," tutur Jokowi dalam
Rakornas Transisi Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta
pada Kamis (26/1/2023).
Ia pun
mengucapkan terima kasih kepada tenaga kesehatan yang sudah bekerja keras
memvaksinasi masyarakat. Tak ketinggalan, Jokowi juga memberi apresiasi
terhadap TNI dan Polri yang selama masa pandemi COVID-19 turut bekerja membantu
agar masyarakat divaksinasi.
Melihat
angka 448 juta vaksin COVID-19 sudah disuntikkan, ini juga jadi bukti bahwa
kerja sama bisa membuahkan hasil yang baik.
"ini
pekerjaan yang memerlukan sinergitas yang sangat baik dan itu semuanya bisa
kita lakukan," katanya.
Genjot
Terus Vaksinasi Dosis 2 dan Booster Pertama
Indonesia
memiliki target vaksinasi COVID-19 sebesar 234,6 juta. Untuk dosis pertama
sudah mencapai 204,1 vaksin COVID-19 yang disuntikkan berdasarkan data per 24
Januari 2023.
Sementara
itu, vaksinasi dosis kedua baru 175 juta penduduk yang menerima dosis lengkap.
Terlebih untuk vaksinasi booster pertama juga terus diupayakan naik dari angka
saat ini di 69,2 juta. Untuk vaksinasi dosis keempat sudah tercapai sebesar 1,2
juta.
Di tengah
cakupan vaksinasi booster pertama atau dosis 3 yang masih rendah, Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sudah mulai membuka pelaksanaan booster
kedua atau dosis 4 bagi masyarakat umum. Booster kedua telah dimulai hari ini,
24 Januari 2023.
Juru Bicara
Kemenkes RI Mohammad Syahril mengakui memang cakupan vaksinasi booster pertama
rendah. Pertimbangan pemberian vaksin booster kedua berdasarkan lama waktu atau
interval vaksinasi booster pertama yang sudah lebih dari enam bulan.
Seperti
diketahui, pelaksanaan vaksinasi booster pertama bagi masyarakat umum berusia
18 tahun ke atas mulai dilakukan sejak 12 Januari 2022. Artinya, telah lebih
dari enam bulan jarak pemberian vaksin booster pertama.
"Ini
tantangan bagi kita. Sementara booster pertama kita masih rendah dan sekarang
kita sudah lakukan booster kedua," terang Syahril menjawab pertanyaan
Health Liputan6.com saat 'Press Conference: Vaksin COVID-19 Booster ke-2 Bagi
Masyarakat Umum' pada Selasa, 24 Januari 2023.
"Dengan
maksud bahwasanya antara booster pertama dan kedua sudah lebih dari enam bulan
sehingga titer antibodi masyarakat itu sudah menurun. Jadi perlu diberi
tambahan booster kedua ini."
Booster
Kedua untuk Melindungi Masyarakat
Pertimbangan
lain dalam pemberian vaksin booster kedua bagi masyarakat umum turut melihat
data dan situasi epidemiologi. Walaupun kasus COVID-19 di Indonesia terkendali,
perlindungan kekebalan dari vaksinasi harus tetap berjalan.
"Ini
memastikan Indonesia tidak ada kenaikan gelombang kasus dan siap menuju endemi.
Booster kedua menjawab kebutuhan masyarakat seiring mobilitas meningkat,"
kata Syahril.
"Jadi
ini seiring kebutuhan bukan hanya dari sektor kesehatan, tapi ekonomi dan
bidang lainnya."
Vaksin Booster Kedua
Warga
menjalani tes kesehatan sebelum menerima vaksinasi dosis keempat atau Booster
kedua di Puskesmas Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (24/1/2023).
Dinas Kesehatan DKI mulai hari ini secara serentak menggelar vaksinasi dosis
keempat atau Booster kedua bagi masyarakat umum berusia 18 tahun ke atas
sebagai upaya meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus Covid-19.
(merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Epidemiolog
Dicky Budiman ikut angkat bicara. Menurutnya, ini adalah waktu yang tepat untuk
memulai booster kedua bagi tenaga kesehatan dan lanjut usia (lansia).
“Ya saat ini
adalah waktu yang tepat karena booster pertama itu rata-rata sudah lima bulan
lalu diberikan kepada kelompok tenaga kesehatan dan lansia,” kata Dicky kepada
Health Liputan6.com melalui pesan suara, Selasa (23/1/2023).
Sedangkan,
bagi masyarakat umum, maka pemberiannya harus selektif.
“Untuk
masyarakat umum saat ini menurut saya selektif dulu karena kita harus
prioritaskan kelompok yang berisiko tinggi dari sisi kondisi tubuh maupun
pekerjaan.”
Tindakan
selektif juga perlu dilakukan mengingat adanya keterbatasan tenaga kesehatan,
vaksinator, dan vaksinnya.
“Masyarakat
umum, umumnya bukan kelompok rawan sehingga bisa nunggu.”

Komentar
Posting Komentar