TINDAK LANJUT ARAHAN IMPOR JOKOWI, 13.600 PRODUK IMPOR RESMI DI BLOKIR LKPP
Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Abdullah Azwar Anas buka-bukaan perihal sederet
arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait transformasi digital pengadaan
barang dan jasa melalui e-Katalog. Arahan ini tidak lepas dari kemarahan Jokowi
lantaran pengadaan barang dan jasa pemerintah kerap menggunakan produk impor.
"LKPP telah memotong mata rantai
yang panjang dari proses tayang produk. Dulu perlu 8 proses, sekarang tinggal 2
proses saja setelah kami bertemu dengan vendor-vendor dan digital marketplace,
sehingga sangat market friendly," ujar Azwar Anas dalam keterangan pers di
Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (25/8/2022).
Imbasnya, menurut dia, terjadi lonjakan
produk yang tayang di e-Katalog dari 52.000 menjadi 600.000 untuk satu tahun.
Sementara untuk toko daring, sekarang sudah ada 708.835 produk, 303.000
merchant, dan untuk mikronya di e-Katalog ada 10.861.
"Intinya presiden memerintahkan
tidak boleh lagi masuk e-Katalog berbelit-belit, tidak boleh lagi sulit untuk
diakses dan ini sekarang sudah mudah diakses," kata Azwar Anas.
Menurut dia, Jokowi juga memerintahkan
agar e-Katalog lokal harus hidup. Azwar Anas mencontohkan kesulitannya membuat
e-Katalog selama 10 tahun menjadi bupati Banyuwangi lantaran syarat yang
terlalu banyak.
"Sekarang syarat yang berat telah
kita potong dan semua kabupaten/kota sekarang sudah punya e-Katalog. Hasilnya
sekarang produknya sudah banyak yang masuk," ujarnya.
Jokowi, lanjut Azwar Anas, juga meminta
agar e-Katalog tersistem dan terintegrasi. Untuk itu, LKPP bersama Kementerian
Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, dan
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi melakukan kerja sama.
"Sehingga dengan begitu solusi
termasuk kartu kredit pemerintah akan bisa jalan. Selama ini UMKM tidak bisa
dibeli produknya, diutang oleh pemerintah daerah, karena bayarnya harus pakai
SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana), kecuali di bawah Rp 50 juta. Sekarang
dengan kartu kredit pemerintah ini ke depan akan lebih mudah untuk membayar
UMKM kita," kata Azwar Anas.
Eks Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten
Seluruh Indonesia itu menambahkan, LKPP juga melakukan pembekuan produk-produk
impor.
"Ini arahan presiden dan sekarang
sudah ada 13.600 produk impor yang sudah ada substitusinya telah kita bekukan
alias tidak bisa dibeli di e-Katalog. Dan ini trennya ke depan akan meningkat
karena sistem kami Insya Allah nanti yang blockchain dan big data ini akan
segera selesai bersama PT Telkom," ujar Azwar Anas.
Dalam kesempatan yang sama, dia juga
mengungkapkan LKPP berencana mengajukan RUU terkait pengadaan barang dan jasa
pemerintah. Basisnya RUU ini adalah kebijakan afirmasi terhadap produk-produk
dalam negeri di Amerika Serikat, India, Filipina, dan China.
Tidak hanya itu, menurut Azwar Anas,
LKPP juga baru mencoba konsolidasi pengadaan. Sederhananya, LKPP mengajukan
anggaran besar di beberapa kementerian disatukan.
"Yang baru saja berhasil dalam
sejarah baru pertama adalah pengadaan laptop. Dari sedikit kementerian, termasuk
Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendidikan, kita dapatkan Rp 6,3 triliun
pembelian laptop," kata Azwar Anas.
"Kalau beli sendiri-sendiri ini
tidak dapat diskon. Kalaupun diskon hanya sedikit. Maka ini kita kumpulkan
bersama LKPP bersama Kemenkeu kita langsung negosiasi ke produsen. Hasilnya
negara bisa hemat Rp 1,8 triliun. Tentu di sistem pengadaan yang lain ibu
menkeu juga melihat bagaimana di negara lain bisa melakukan konsolidasi
sehingga penghematan uang negara bisa berjalan baik," lanjutnya.
Yang paling akhir, menurut Azwar Anas,
apabila dulu memasukkan produk di e-Katalog perlu negosiasi harga, sekarang
tidak perlu negosiasi. LKPP mengikuti harga pasar.
Kedua, menurut Azwar Anas, dulu kontrak
produk dua tahun sekali sehingga tokonya buka dua tahun sekali. Sekarang,
lanjut dia, setiap saat bisa berubah harga sesuai mekanisme pasar.
"Sehingga ini arahan dari bapak
presiden untuk menjadikan market place bagi pemerintah untuk belanja dari uang
negara pemerintah insyaallah ke depan akan bisa jalan," ujar Azwar Anas.

Komentar
Posting Komentar